Have you ever searched for words to get you in their heart.. But you don’t know what to say..
And you don’t know where to start.. Have you ever closed your eyes and dreamed that they were there..
And all you can do is wait for that day when they will care..
Showing posts with label nyanyian senja. Show all posts
Showing posts with label nyanyian senja. Show all posts

Monday, 20 December 2010

Nyanyian Senja - Final Chapter



Aku memandang balon biru yang melayang di antara semburat oranye mentari senja. Balon yang membawa sebuah surat perpisahanku untuk Dira. Di hadapanku, perlahan-lahan ombak membawa buket bunga ke tengah samudera, sebelum ombak besar menghantam dan memecah ikatannya, membuat bunga-bunga itu tersebar.
“Are you okay, Sa?” tanya Listia pelan. Aku hanya mengangkat bahu, pandanganku tak lepas menatap garis batas antara samudera dan cakrawala. Aku kembali menatap langit ketika setitik air mata terasa siap meluncur turun. Balon biru itu telah tiada, mungkin menyelinap di balik mega, atau telah dibawa oleh sang Pencipta untuk diserahkan pada Dira. Aku menghela nafas panjang.
“Let’s go home, Lis.”

*****

“Diandra Nathaniel!!” teriakan dari bawah membuat pemuda itu nyaris kehilangan keseimbangannya. “Mama, jangan mengejutkanku dong. Aku hampir jatuh nih!” pemuda yang dipanggil Diandra itu balas berteriak.
“Kamu ngapain naik-naik pohon segala?!” mamanya berteriak lagi.
Diandra melompat dari cabang terendah, dan mendarat tepat di depan mamanya. “Aku lihat ada balon gas tersangkut di pohon dan ada gulungan kertas terikat di talinya. Aku jadi penasaran,” Diandra menarik gulungan kertas tersebut, lalu menyerahkan balon gas pada mamanya. “I’ll continue with packaging, see ya, Mom,” kata Diandra sebelum melangkah memasuki rumah.
“Dira, you just have one hour for that or we’ll miss the travel back to Bandung!” Mama mengingatkan. Diandra hanya melambai sebagai jawaban.
“Hmm, it really makes me curious, what is inside the paper?” Diandra melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur, dan mulai membuka gulungan kertas tersebut.

Dear Dira,

Setahun berlalu sejak terakhir kali aku melihat sosokmu. Setahun yang cepat. Dan mereka terus berkata agar aku merelakanmu. Satu hal yang hingga kini tak mampu kulakukan. Kau masih ingat dulu kau pernah mengajakku untuk menemanimu ke sini? Katamu ini pantai yang indah, karena kita dapat melihat matahari terbit dan terbenam sekaligus. Well, aku sudah di sini, tapi tanpa kamu. Hanya bertemankan segenggam kenangan tentangmu. Dan itu menyakitkan.
Sekarang aku berdiri di pantaimu, di mana jejak terakhirmu tertinggal, di mana raga dari jiwa yang kukagumi tertidur selamanya, berselimutkan samudera dan tak tersentuh. Aku selalu berharap saat kupalingkan pandanganku ke arah samudera, mampu kulihat sosokmu di sana. Hidup. Selamat. Namun sang mentari senja selalu menenggelamkan harap itu, bersama deburan ombak.
Dira, terdengarkah nyanyian hatiku menginginkanmu? Sampaikah setiap pesan singkat yang setiap malam kukirimkan padamu? Mengatasnamakan rindu. Mengatasnamakan sebuah rasa yang terpendam. Kepergianmu menyadarkanku bahwa sebentuk persahabatan di hati mulai berubah arah. Kesadaran yang tak seharusnya terlahir, karena kau tak lagi ada di sini.
Segenggam pinta kukirimkan bersama balon gas ini, berharap dapat sampai ke singgasanamu. Tolong kembalikan sebuah hati yang telah kau renggut, karena perih ini tak jua kunjung menghilang. Tolong ajari aku bagaimana merelakanmu, agar aku tak mencaci pertemuan kita, dan tak juga membenci kenanganku bersamamu. Tolong bantu aku untuk lari dari bayanganmu, agar suara ombak dan mentari senja tak membunuhku.

Ombak, matahari terbenam, kerinduan.
Itu puisiku untukmu.



Salam sayang,

Carissa
(carissa.rinaldi@yahoomail.com)



“Carissa Rinaldi,” gumam Diandra. “And her beloved death guy has a same name with mine.”
“Dira!!” teriakan Mama terdengar lagi dari luar kamar.
“Iya.. iya.. aku datang..,” Diandra melipat surat itu dan menyelipkan di saku kemejanya. Hmm, first thing to do when he arrive in Bandung is to add her e-mail address to his Y! Messenger, mungkin juga facebook-nya – if she had one. Well, Diandra penasaran seperti apa gadis bernama Carissa Rinaldi itu, yang mampu memendam dan mempertahankan perasaannya dalam waktu yang cukup lama. Not type of many girls he knows recently, who so easy changing her boyfriend just like changing her phone.
And maybe.. maybe.. aku bisa mengobati luka hatinya, batin pemuda itu.


created : 13 Juli 2010



Nyanyian Senja - Chapter 5



Namaku Dira, begitu dia memperkenalkan diri, sambil mengulurkan tangannya. Awal kami berkenalan adalah karena hukuman untuk membuat paper setebal gajah gara-gara terlambat datang saat ospek. Dira, aku, dan Listia. Keluar-masuk perpustakaan, browsing internet, ditambah satu minggu kurang tidur demi sebuah tugas, dari situlah embrio sebuah persahabatan mulai terbentuk.
Aku tak tahu banyak tentang Dira, dia layaknya sebuah rumah yang terkunci rapat dan semua orang diperkenankan untuk masuk hanya sampai halaman depan saja. Tapi adu mulut adalah keahliannya, dan dia melakukannya setiap hari dengan Listia, sementara aku selalu berperan sebagai pihak penengah untuk menghentikan keributan yang mereka ciptakan.
Aku tak pernah dekat dengan cowok sebelumnya dan Dira adalah cowok pertama dimana aku bisa menyebutnya sebagai sahabat. Yes, he is my first best guy friend. Dia ada di sampingku saat nilai praktikumku hancur berantakan, dan dia yang terus menyemangatiku ketika Papa dan Mama memutuskan untuk bercerai. Listia juga selalu ada di sampingku, tapi Dira yang tak pernah henti mengirim pesan-pesan singkatnya selama bermalam-malam, sekedar membuatku tertawa dengan lelucon atau komentar lucunya.
Mungkin benar yang orang katakan bahwa cinta datang karena terbiasa. Aku terbiasa menengahi pertengkaran Listia dan Dira, terbiasa dengan sosok Dira yang selalu duduk di sampingku dan bisikan isengnya saat dosen tengah menerangkan, terbiasa dengan pesan singkatnya di malam hari, terbiasa melihatnya menunggu kedatanganku dan Listia di gerbang kampus, terbiasa mendengar rengekannya untuk ditemani sarapan di kantin. Dan saat Dira tiada, rasa terbiasa itu membuatku hampa. Aku bagai raga yang kosong mencoba bertahan menjalani hidup, sementara jiwaku berkelana mencari sosok Dira yang entah berada di mana.
“Dan akhirnya aku tersadar.. persahabatan itu ternyata sudah jauh berubah arah.. setidaknya dari sisi aku..,” aku mengakhiri cerita panjangku pada Pak Anton, keesokkan harinya saat Pak Anton menemaniku sarapan.
“Jadi itu yang membuat Neng Rissa selalu datang ke Pangandaran?”
Aku mengangguk pelan, “Jasadnya tak pernah ditemukan, jauh di sudut hati aku masih berharap bahwa dia masih hidup.”
“Tapi itu sudah setahun berlalu, neng.”
“Aku tahu, Pak. Aku selalu mengulang mantra itu setiap malam, berharap itu bisa membunuh sepercik pun harap yang mencoba lahir kembali. tapi raga ini tak bisa mengerti, langkah ini selalu mengarahkanku ke sini, mata ini selalu mencari gambarannya di manapun berada, telinga ini seolah mendengar desah suaranya di antara desiran angin. Raga ini terlalu mengingatnya, Pak. Dan itu yang menyakitkan.”
“Rissa…” Suara seseorang yang kukenal membuatku berpaling.
“Listia?” aku menatap tak percaya sosok yang kini berdiri di belakangku.
“Jadi.. itu alasannya kamu selalu pergi ke Pangandaran? Selama ini kamu masih mencari sosok Dira?” tanya Listia. Aku menelungkupkan wajahku ke meja, tak bisa berkata apa-apa. Aku bahkan tak tahu harus berkata apa.
“Rissa, wake up! Sampai kapan kamu mau bermimpi bahwa kemungkinan Dira masih hidup?! Itu sudah setahun yang lalu!!” Listia menguncang bahuku, seolah dengan begitu dia mampu membangunkan aku.
“I’m trying, Lis! Kau pikir aku tak berusaha, apa?! Kau tak mengerti perasaanku, aku benar-benar kehilangan!” aku menepis tangan Listia dan bangkit dari kursi.
“Do you think I’m not? Rissa, aku memang ga jatuh cinta sama Dira, tapi Dira juga sahabatku, as if you forgot already about that,” Listia berkata lirih. “Dan tak lama setelah Dira tiada, sahabatku yang tinggal satu-satunya berubah menjadi seseorang yang tak dapat kukenal, seseorang yang tak dapat aku mengerti lagi. Aku kehilangan dua sahabat sekaligus, Sa. Dan sekarang beritahu aku, di bagian mana aku tak bisa mengerti perasaanmu?” ucapan Listia membuatku tersentak.
“Sorry.. I’m so sorry..,” aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan.
“Kamu harus bangun dan melihat kenyataan, Sa. He’s gone, that’s the fact that we can’t change. Ayolah, aku tak mau bertengkar denganmu. Dira pasti akan langsung menjewer telinga kita kalau dia ada di sini.”
Aku tersenyum tipis, satu lagi kebiasaan Dira yang sulit untuk dilupakan.
“Lalu, kenapa kamu ada di sini?” aku baru tersadar akan kedatangan Listia, seingatku dia tak berniat untuk datang ke Pangandaran.
“Besok tepat satu tahun kita kehilangan Dira. And since his body is somewhere out there, inside the ocean, aku bermaksud untuk melempar buket bunga ke laut.”
“One year passed away so fast..,” aku menatap keluar jendela, siluet lautan tampak di kejauhan.
“Rissa, jangan mulai lagi,” sentuhan lembut Listia di lenganku membuatku mengalihkan pandangan dari jendela. “But still hurt inside, just like the first time,” bisikku.
“Luka itu perlahan akan terobati, dan suatu saat nanti Neng Rissa akan mendatangi Pangandaran dengan tersenyum. Tapi Neng Rissa harus mulai berani melangkah dulu, tidak hanya terdiam seperti saat ini,” kata Pak Anton.
Aku hanya terdiam, pandanganku kembali jatuh pada siluet lautan di luar jendela.


Nyanyian Senja - Chapter 4



Sore itu langit berawan, saat aku memutuskan untuk kembali ke pantai dan menenggelamkan diri dalam alunan nyanyian ombak ketika senja. Aku berdiam, mata dan hatiku menyusuri luasnya samudera. Mencari seseorang, mencari sepercik gerakan di mana aku bisa serahkan setiap harapku, meski pikiranku terus dan terus menjerit bahwa itu tak mungkin lagi.
Rissa…
Kali ini angin yang membawa desahnya, seiring awan hitam yang berarak mendekat.

*****

Gah, it’s so boring. Huft, seharusnya aku ikut Dira main ke Pangandaran, it would be far far better instead of attending this boring party. Teman-teman Kak Cianti sudah seperti orang gila saja, teriak-teriak karaoke-an nyanyi entah lagu apa.
Mentari senja yang menyinari taman belakang rumah terasa menyilaukan. Aku melintasi ruang kerja Papa untuk mengisi ulang gelasku dengan Coke. Langkahku terhenti ketika TV di kamar Papa menampilkan Headline News tentang kelanjutan gempa dan tsunami. Oh iya, kemarin aku memang mendengar selintas tentang tragedi itu, namun karena sibuknya menyiapkan acara ulang tahun Kak Cianti, berita itu lewat begitu saja.
Pembaca berita di TV mengabarkan berita pencarian orang hilang yang terseret ombak tsunami.
“Masih dilakukan pencarian terhadap tiga orang pemuda yang diduga terseret oleh ombak. Pihak hotel mengatakan mereka terakhir kali terlihat berjalan ke arah pantai untuk menghampiri kapal nelayan penjaring ikan, namun itu tiga jam sebelum tragedi tsunami terjadi. Berikut data tiga orang pemuda yang diduga terseret ombak.”
Gelas kaca yang kupegang meluncur jatuh saat satu wajah yang sangat kukenal tampak di layar TV. Dan sedetik kemudian sekelilingku menjadi gelap. Samar-samar aku mendengar suara Papa yang langsung menghampiriku dari depan TV, sebelum kesunyian menenggelamkanku. Sebuah kata sempat terucap lirih dari bibirku.
“Dira…”

*****

“Neng Rissa?!”
Aku tersentak oleh tepukan lembut di bahu.
“Ya ampun, neng. Bapak kira ga akan bisa nemuin Neng Rissa. Bapak sudah keliling nyari ke mana-mana. Neng Rissa pintar banget cari tempat sembunyi,” aku mendengar nada khawatir sekaligus lega dari suara Pak Anton. “Anginnya kencang sekali, kemungkinan akan ada badai makanya Bapak cari Neng Rissa.”
Aku menatap sekitarku. Masih tampak segaris sisa pertarungan terakhir mentari dan samudera, namun selebihnya hanyalah lukisan kegelapan. Angin mulai menghentak dedaunan kelapa sementara ombak melompat menarikan tarian sukacita kemenangan.
“Neng Rissa?” Pak Anton menatapku cemas, mungkin karena aku tak jua bersuara. "Kita kembali ke hotel ya? Langit sudah gelap, dan gerimis mulai turun,” Pak Anton menepuk bahuku pelan. Perhatian yang mengalir dari suaranya membuat pertahananku akhirnya hancur.
Aku terisak keras, sambil memeluk lengan Pak Anton, membasahi lengan kemeja kerjanya dengan air mata. Tetes demi tetes air mata mengalir bersamaan dengan tangisan langit, bercampur dan pada akhirnya sama-sama bermuara di bumi. Pak Anton hanya menepuk punggungku tanpa kata, mengizinkan hujan dan angin membawa semua duka yang kutumpahkan.
Setelah isakanku mereda, Pak Anton mengajakku untuk kembali. Beliau mengantarkanku sampai depan pintu kamar dan mengusap rambutku pelan, “Neng Rissa, Bapak ga ngerti ada apa, tapi kalau Neng Rissa ada masalah dan butuh teman berbagi, Bapak siap mendengarkan.”
Aku menggeleng pelan, “Saya ga mau merepotkan Bapak.”
“Maaf kalau Bapak lancang, tapi Neng Rissa sudah Bapak anggap putri Bapak sendiri. Bapak sedih ngeliat Neng Rissa selalu melamun, setiap datang ke Pangandaran selalu dengan wajah sedih, seolah kehilangan arah dan kebingungan mencari pegangan agar tetap dapat bertahan. Kalau Neng Rissa sudah siap, cerita sama Bapak ya?”
Nada suara Pak Anton yang sarat perhatian akhirnya membuatku mengangguk pelan. Kuucapkan selamat malam sebelum kutenggelamkan diriku di balik selimut dan berharap mimpi buruk itu, untuk sekali ini saja, tak hadir mencabik jiwaku.


Nyanyian Senja - Chapter 3


“Rissa.. ayo dong, ikut aku ke pantai ya? Aku mau penelitian nih, tapi kan ga seru kalau hanya pergi sendirian,” Dira duduk di sampingku. Saat itu tengah pergantian mata kuliah dan makhluk satu itu baru saja masuk kelas.
“Apa sih, tiba-tiba ngomong tanpa basa-basi. Bukannya bilang terima kasih karena aku sudah berbaik hati ngabsenin kamu,” kataku tanpa menoleh ke arahnya.
“Iya deh, Rissa sayang, makasih sudah ngabsenin aku. Jadi, kamu ikut ke pantai ya? Jangan nemenin si Listia naik gunung melulu dong.”
“Heh, apa maksudnya tuh?” Listia tiba-tiba muncul di belakang Dira.
“Hyaa.. monyet gunungnya muncul,” Dira melompat berdiri dan berlari menjauh sambil tertawa. “Muhammad Sandira Putra!! Sini kamu kalau berani!!” Listia berlari mengejar Dira.
“Halah, duo berisik kumat lagi,” Putri, yang juga sekelas denganku, berkomentar. “Hebat kamu, Sa, tahan sahabatan dengan mereka berdua,” sambungnya. “Yah, harus ada pihak ketiga yang menetralisir kegilaan mereka kan?” aku tertawa.
“Rissa.. c’mon, join me to the beach. You should see Pangandaran. You can watch sunrise and also sunset from one beach,” Dira sudah kembali dari pelariannya dan meneruskan acara membujukku.
“Kapan?” tanyaku.
“Next week, on Sunday.”
“I can’t. Sunday is my sister’s birthday and I absolutely can’t have another plan,” aku menggeleng lemah. “Kenapa ga ajak sang monyet gunung aja?” aku menggoda Listia yang baru menampakkan dirinya lagi.
“Rissa.. sialan lo..!” Listia menjitak pelan kepalaku, lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi sebelahku.
“Ogah.. repot..!! Di pantai susah cari pisang, banyaknya ikan asin. Kecuali kalau monyet gunungnya suka sama ikan asin,” Dira duduk di sisi lain kursiku. Posisinya selalu seperti ini di setiap kelas, aku di antara Dira dan Listia yang tak pernah berhenti adu mulut dan saling cela.
“Halah, sudah deh kura-kura berisik melulu. Are you done already with that Chemical Analytic homework?” kata Listia.
“Heh? Memangnya Kimia Analisis ada tugas?” Dira menatapku dan Listia tak percaya, membuat kami berdua tertawa. “You always like that, Dir,” aku menggeleng pasrah dan menyerahkan tugasku untuk disalin Dira.
“And you always be my savior, Sa,” Dira nyengir.

*****

Aku tersentak terbangun, sedikit bingung memperkirakan di mana aku berada, sebelum akhirnya aku sadar aku berada di kamar hotel. Kuusap wajahku dan telapak tanganku pun basah oleh air mata. Mimpi itu lagi, desahku. Kupicingkan mata untuk melihat jam digital di meja samping tempat tidur, it still 2 in the morning.
Aku beranjak dari tempat tidur dan menghampiri jendela. Langit kelam bersulamkan ribuan berlian tampak indah menyertai kilau sempurna sang rembulan. Aku meraih handphone-ku dan mengetik sebuah kalimat singkat sebelum kukirimkan pada seseorang yang nomornya masih terukir dengan tegas di ingatanku. Tak ada report, aku kembali mendesah. Selalu seperti ini. Tapi aku tak tahu cara lain yang dapat menghubungkanku dengannya.
“Dira.. aku di sini.. di Pangandaran.. tapi kamu di mana…”
Dan setetes air mata kembali mengalir. 


Nyanyian Senja - Chapter 2


 
“Pangandaran, Pangandaran!” teriakan supir bus menghentakku dari buaian lamunan panjang. Aku menarik ranselku dan melangkah menuruni bus kecil itu. Huff, akhirnya aku kembali lagi ke sini. Entah sudah yang keberapa kali semenjak kejadian itu.
Penjaga pintu sebuah hotel di sekitar pantai tersenyum saat aku mendekat. “Selamat sore, Neng Rissa. Sudah masuk musim liburan lagi ya?” sapanya sambil mengambil tas ranselku.
“Sore juga, Pak Anton. Hanya liburan singkat selama satu minggu kok, Pak.”
Hotel tempat Pak Anton bekerja adalah hotel kecil langgananku menginap selama pelarianku ke Pangandaran. Karena itu pula akhirnya aku dekat dengan beliau.
Pak Anton menemaniku selama di resepsionis dan mengantarkanku ke kamar, bersikeras membawakan ranselku dengan alasan aku pasti lelah karena telah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Bandung. Setelah mengucapkan terima kasih, aku melemparkan tubuhku ke atas tempat tidur. Siluet oranye mentari senja menembus melalui jendela kamar, menciptakan permainan warna yang indah namun juga sendu. Hotel tempatku menginap berada di bagian selatan dari pantai Pangandaran, dan kamar tempatku menginap menghadap langsung ke arah matahari terbenam.
Aku bangkit dan menghampiri jendela. Membiarkan cahaya oranye itu menghujani tubuhku. Dan tanpa sadar setetes air mata meluncur menuruni pipi. Disambung dengan tetesan lainnya. Dan berakhir dengan aku terisak sambil menyaksikan bagian terakhir mentari senja ditelan lautan dan melahirkan kegelapan.

*****

Ketukan di pintu membangunkanku. “Neng Rissa, ini Bapak. Neng Rissa mau sarapan di kamar atau di lobby hotel?” suara lembut Pak Anton terdengar dari balik pintu. Aku bangkit perlahan dan merasakan ruangan sekejap berputar, sepertinya tekanan darahku drop. Bantal di sampingku masih terasa lembab, sisa-sisa air mata yang belum diuapkan oleh waktu. Aku tak ingat jam berapa aku tertidur, mungkin ketiduran setelah lelah menguras air mata.
Kurapikan rambutku sambil melangkah menghampiri pintu. “Selamat pagi, Pak Anton. Saya sarapan di lobby saja, tapi mungkin saya baru turun setengah jam lagi,” aku menyapa Pak Anton.
“Selamat pagi juga, Neng Rissa. Kalau begitu Bapak siapkan sarapan Neng Rissa di meja yang biasa ya?” Pak Anton mengangguk pelan sebelum pergi. Aku melihat jam tanganku, jam 8 pagi, pantas saja Pak Anton menanyakan tentang sarapanku.
Setelah sarapan aku memutuskan untuk ke pantai. Setelah berjalan-jalan sejenak menyusuri toko-toko cinderamata, aku terdiam di satu sisi pantai, merasakan  sentuhan hangat pasir-pasir lembut di jari-jari kakiku. Samar-samar terdengar suara tawa anak-anak kecil, suara seorang Ibu memanggil putri kecilnya untuk kembali ke pantai, tawa genit seorang gadis lugu yang berhasil masuk perangkap mulut manis pemuda di sampingnya.
Aku memejamkan mata dan menghirup udara segar yang bercampur dengan aroma asin lautan. Deburan ombak yang tertangkap telinga melahirkan ketenangan batin yang memabukkan, tapi juga sesak yang tak terobati.
Siluet oranye senja kembali memenjarakanku, membuatku tersentak akan betapa cepatnya waktu berlalu. Pantai sudah mulai sepi, hanya beberapa pasangan muda yang memang berniat menikmati matahari terbenam. Lukisan sang surya nan agung yang pasrah ditelan oleh samudera entah mengapa membuatku miris.
Rissa…
Sebuah bisikan halus terdengar dari balik deru ombak. Seolah muncul dari garis antara mentari dan lautan.
Rissa…
Sebuah suara yang pernah membuai telingaku. Dulu.
Rissa…
Sebuah bisikan yang mampu membuat air mataku kembali mengalir.
“Dira.. sorry.. I’m so sorry..,” bisikku di antara isak tangis.
Aku terus terisak, hingga gelap mulai menyelimutiku. Suara ombak perlahan mereda. Tenang. Semilir angin malam yang membelai lembut rambutku membuatku terkesiap. Aku beranjak bangkit dan melangkah kembali menuju hotel. Sudah berapa lama waktu berlalu dari saat matahari terbenam? Semoga belum terlalu terlambat, atau Pak Anton akan panik mencariku keliling pantai.

Nyanyian Senja - Chapter 1



“Rissa!”
Langkahku terhenti oleh teriakan seseorang. Aku menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Listia tengah berlari menghampiriku. “Ampun deh. Aku tahu ini hari terakhir kuliah, tapi kamu kan ga harus langsung menghilang,” gadis itu berhenti di sampingku dan mengatur nafasnya.
“Aku mau ke Pangandaran sore ini, jadi harus langsung pulang. Bisa-bisa aku ketinggalan bus,” kataku sambil melirik jam tangan Benetton-ku. I just have two hours before the bus arrival on the station.
“Again?!” tanya Listia tak percaya. “Kamu kan baru saja dari sana tiga bulan yang lalu. What makes you so crazy about that place? Since as far I know you have no family or any relation there.”
“Just love the place. Is it that wrong?”
“Carissa, it’s not love anymore. You obsessed with that place, you know. Setiap kali liburan selalu kau habiskan di sana. Seminggu, dua minggu, bahkan liburan akhir semester selama dua bulan pun. Sebenarnya ada apa di sana, Sa?”
Aku menghela nafas panjang dan menggeleng pelan. Belum saatnya bagi dia untuk mengetahui cerita panjang di balik pelarianku ini, though she’s the closest friend I have.
“Hhh, tadinya aku mau mengajakmu untuk naik gunung besok sore. But since you have another secretly business, guess I should cancel it,” kata Listia, setelah beberapa saat aku tak juga bersuara. “And surely there will be no another time also. Maybe I should ask someone else company me spending this holiday, since my closest friend busy with her own world,” gadis itu membalikkan tubuhnya dan melangkah kembali menuju gedung jurusan.
Aku menatap kepergian Listia setengah menyesal, tapi apa yang harus aku lakukan saat hati belum siap untuk bercerita? Kulirik jam tanganku untuk kedua kalinya. Damn, aku harus segera pulang atau aku benar-benar akan ketinggalan bus.


Nyanyian Senja - Prolog



Ombak, matahari terbenam, kerinduan. Itu puisiku untukmu. Sekian waktu berlalu, siluet jingga itu masih mampu lahirkan gambaranmu. Dan aku masih di sini, menantang debur ombak dan menatap langit. Berharap balon gas yang kulayangkan dapat tiba di singgasanamu. Kabarkan satu rasa yang tak sempat terlantun. Tentang kita.